Sisa Kecil Nostalgi di Sebuah Tempat yang Tak Diindahkan

“Tak seorang pun menang,” katamu.

Kapal tongkang batubara bergeming di riak tenang Anak Barito

Ombak tak berirama disigar perahu kecil, buih-buih beranak pinak

“Kita, masing-masing, punya seteru,” jawabku.

Ihwal itu, aku mengiyakan, walau tak sampai hati aku bicara soal ini

Nelayan bercaping kuning menjaja segala rempah di atas perahunya

Dan tiada kudengar kau menghela napas barang sebentar

“Kau takut?” Tanyaku, pongah.

Asap kebakaran, siraman air di hutan Kalimantan, maut rupa-rupa kehidupan

Kera-kera menyanyikan saudade, di bawah lazuardi

Suaranya berpadu, kau menutup baris-baris kosong nyanyian mereka

dengan rapalan, bunyi desahmu, “hineni, hineni, hineni …”

Kita semua, menyimpan berunggun-unggun api, dan terbakar amarah sendirian

Meringkuk dalam tudung tulah

dari tipuan cahaya api, yang membuat bayangan tampak besar

Kita tertipu bayangan sendiri, dari raga yang kecil ini

“Tapi,”

“kita bernaung dengan bayangan,” suaramu bergetar,

“oleh karena pohon yang melindungi dari muslihat cahaya panas itu.”

 

“Aku ingin melihat semua ini berakhir,” tambahmu, untuk yang terakhir kali.

 

Pic source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s