Kecerdasan Buatan, Bahasa, dan Potensi Bias yang Terkandung

Yuval Noah Harari, sejarawan tersohor dari Israel yang menulis buku-buku dengan penjualan terbaik seperti Homo Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for the 21st Century mewanti-wanti tiga aspek terbesar yang akan dihadapi manusia ke depannya. Perubahan iklim yang drastis, bom nuklir, dan disrupsi teknologi. Dunia sedang menyongsong era baru –industri 4.0, di mana internet dan teknologi kecerdasan buatan berkembang begitu pesat. Saking pesatnya, secara tidak kita sadari, mungkin terdapat penemuan setiap harinya yang berkaitan dengan teknologi dan perkembangan kecerdasan buatan.

Kita masih berjuang dalam usaha menebas segala bias rasial maupun gender yang membudaya. Kini masyarakat digeruduk teknologi mutakhir, yang tak akan pernah berhenti tumbuh dan berkembang. Masalah bias ini dapat menyusup ke dalam kecerdasan buatan, salah satunya melalui penerapan bahasa.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence pertama kali dicetuskan oleh John McCarthy, seorang ilmuwan matematika dan computer asal Amerika Serikat. Ia juga dianggap sebagai “Bapak Kecerdasan Buatan” dunia. McCarthy merupakan pencipta time-sharing, yaitu suatu metode saat berbagai pengguna dengan program yang beragam dapat berinteraksi melalui CPU untuk dapat saling bekerja dalam waktu yang sama. Inisiatif ini yang membuat kita dapat menikmati internet modern seperti sekarang. Sejak saat itu, perkembangan internet dan dunia kecerdasan buatan semakin tumbuh dengan kecepatan yang tak dapat kita kira.

Potensi Bias dalam Implementasi Kecerdasan Buatan

I exist beyond your human concept of gender,” kata Siri, sebuah asisten virtual ciptaan SRI International Artificial Intelligence Center yang diakuisisi Apple.inc pada 2010, yang dapat menjawab pertanyaan, memberi saran, dan dapat melakukan sesuatu sesuai permintaan melalui satu set layanan internet. Siri mendaku diri tidak bergender. Seseorang di balik suara Siri ialah Susan Bernett, seorang voice talent dari Amerika Serikat yang sudah malang-melintang di profesinya itu bahkan sejak kehadiran mesin ATM pertama pada 1976 –bernama Tillie.

Lain lagi dari Siri, ada Cortana dari Microsoft yang juga menggunakan suara perempuan. Begitu pula Alexa buah pikiran Amazon, Samsung’s Voice, dan seperti yang kita semua tahu, Google Now. Tentu kita akan berpikir bahwa mereka pun perempuan. Apakah para desainer teknologi paling kiwari ini juga menginspirasi hadirnya tokoh Samantha di film Her (2013)? Dan Ava dalam Ex Machina (2014)? Atau semua penciptanya memiliki ideologi yang sama? Ini lain soal.

Pada artikel bertajuk: “Siri and Cortana Sound Like Ladies Because of Sexism” di situs Wired, Jessi Hempel mengungkapkan bahwa secara garis besar, orang-orang cenderung memberi respon positif terhadap suara perempuan. Para penciptanya menginisiasi ide ini untuk menjangkau sebanyak mungkin jumlah pelanggan. “Riset mengindikasikan bahwa terdapat kemungkinan penerimaan yang lebih besar melalui suara perempuan,” ujar Karl MacDorman, seorang profesor spesialis interaksi manusia-komputer dari University’s School of Informatics and Computing seperti dikutip Hempel dalam artikelnya.

MacDorman melakukan penelitian tersebut bersama beberapa rekannya dengan melibatkan sejumlah responden untuk mendengarkan suara mana yang lebih mereka sukai. Hasilnya, “laki-laki mengatakan bahwa mereka menyukai suara perempuan, dan perempuan menyatakan bahwa mereka benar-benar menyukainya.” Tentu terdapat naturalisasi bias hingga ke orang-orang terdekat kita karena Indonesia sendiri menerima masuk semua teknologi tersebut. Saking naturalnya ini, kini coba bayangkan penggunaan subjek dalam kalimat seperti: saya, Anda. Akan terasa asing jika pengisi suara adalah seorang laki-laki. Jika perlu, minta teman Anda untuk membayangkannya dan tagih pendapatnya.

Kritik mengenai bahasa dan persoalan bias tersebut juga datang dari jurnal sains hasil penelitian ilmuwan komputer Joanna J. Bryson dari University of Bath di Inggris yang fokus pada sebuah perangkat machine learning yang bernama “word embedding.” Teknologi ini mentransformasi bagaimana cara komputer menginterpretasi cara bicara dan teks. Kecanggihan ini juga telah diterapkan pada web search dan machine translation yang bekerja dengan membangun sebuah representasi bahasa matematis. Makna dari sebuah kata diubah ke dalam satuan angka-angka (yang diketahui sebagai word vector) berdasarkan kata-kata lain yang paling sering muncul bersamaan dengan kata utama.

Yang mengejutkan, hasil statistik dari pendekatan ini menemukan bahwa terdapat kekayaan budaya dan konteks sosial dari makna sebuah kata yang di mana, kamus-kamus tidak memiliki kapasitas untuk mengartikannya secara definitif, sehingga, makna yang disajikan adalah makna yang sesuai dengan ideologi penciptanya melalui sistem algoritma. Contohnya, kata “perempuan” dan “wanita” lebih mengasosiasikan kepada seni dan pekerjaan sastra dan juga yang berkaitan dengan rumah, sedangkan “laki-laki” dan “pria” lebih dekat mengasosiasikan arti pada matematika dan profesi teknik.

Selain itu, sistem kecerdasan buatan lebih kecenderungan ke arah tertentu: nama-nama Eropa-Amerika dengan kata-kata kesenangan seperti “karunia” atau “bahagia,” sementara nama-nama Afro-Amerika dengan kata-kata yang tidak menyenangkan. Temuan ini menyiratkan adanya sebuah bias pada sistem algoritma yang disusun dalam sebuah machine learning. Temuan ini juga menunjukkan bahwa algoritma telah memperoleh bias yang mengarahkan orang (setidaknya di Inggris dan Amerika di mana teknologi ini dikembangkan) untuk mencocokkan kata-kata menyenangkan yang merujuk kepada superioritas golongan tertentu.

Tanggapan yang Patut Diajukan

Hal ini yang seharusnya turut menjadi pertimbangan utama para pengembang di baliknya. Tabitha Goldstaub, co-founder direktori dan komunitas kecerdasan buatan di Cognition X menyadari adanya potensi bias pada teknologi ini. Seperti diungkapkannya pada The Guardian, bahwa bias-bias yang diterapkan oleh teknologi yang dibawa para pengembangnya akan semakin kuat dan bahkan dapat semakin buruk.

Menurut Goldstaub, salah satu cara menuntaskan masalah ini adalah dengan melibatkan banyak perempuan di industri kecerdasan buatan dan tekologi, seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan yang masih dapat dibilang sebagai “lahan baru” dalam dunia industri. Silvia Chiappa, peneliti senior di perusahaan kecerdasan buatan milik Google bernama DeepMind, telah menyadari hal ini dan berusaha menarik minat para perempuan untuk turut bergabung dalam industri teknologi.

Selain itu, dengan mengisi posisi di berbagai sektor industri teknologi oleh orang-orang dari beragam kalangan, konsep ini juga dapat memberikan perspektif yang beragam. Sehingga, kalimat “ciptaan adalah cerminan dari penciptanya” benar-benar diimplementasikan dengan baik, tidak hanya sebuah kombinasi font tertulis.

Indonesia sendiri telah mengambil sikap untuk mempersiapkan diri menghadapi industri 4.0, seperti yang dinyatakan Kementerian Perindustrian dalam situsnya. Bila memang serius, maka pemerintah sebagai pengelola tertinggi harus membuat regulasi yang netral dan tidak ambigu. Implementasinya dapat mengarahkan para ilmuwan kita supaya memahami duduk perkara ini dan mengambil langkah signifikan untuk tidak menaturalisasi bias melalui teknologi.

Teknologi memang tidak terelakkan dari kehidupan manusia. Bagi sebagian orang, kecerdasan buatan merupakan momok malapetaka. Kita patut mempertanyakan isu ini hingga mereka, para pengembang, mau mendengar dan mengambil langkah baik. Bias merupakan hal yang buruk, dan jangan sampai kita sendiri yang menambahkan keburukan pada teknologi ini menjadi sebuah momok mahapetaka.

 

Pic source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s