Di Ambang Wujud Utopia atau Distopia

18 Desember 2018

Jujur tulisan ini masih mengambang dan saya berusaha terus memahaminya. Dari segi etika, moral, cara bersikap, berperilaku, dan banyak hal. Tentu dengan senang hati kritik dan saran referensi saya terima untuk terus dapat memahami persoalan ini. Ada bermacam pikiran tentang hal ini yang begitu rumit dan saya pun bingung bagaimana menuliskannya.

Untuk memulainya, mari kita berpikir dalam satu dekade ke depan. Sepertinya kekhawatiran dalam diri kita makin menyeruak, apalagi dengan kemunculan teknologi canggih berupa kecerdasan buatan. Memang, awalnya teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia. Namun, manusia yang mana? Saya membayangkan, dalam 10 tahun ke depan, manusia hidup dalam kode-kode, dalam dunia di genggamannya, dan di dalam layarnya. Apakah peran aktif manusia secara fisik masih dapat ditangguhkan dalam beberapa waktu ke depan?

Internet of Things akan menjalar ke tempat-tempat yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Bayangkan saja, Amazon di Amerika Serikat telah mengembangkan jasa pengiriman menggunakan drone, yang mana para kurir atau sopir-sopir truk dan para pengangkut barang yang merupakan pekerjaan paling berisiko lenyap. Selain memangkas biaya, teknologi ini mudah diatur, dapat meminimalisir kecelakaan dan tentunya memiliki jam kerja yang lebih tinggi. Pemilik usaha mana yang tidak tergiur dengannya? Alih-alih mengeluarkan modal awal yang lumayan, namun upah dan biaya operasional dapat dipangkas lebih besar. Tentunya ini solusi terbaik yang dimiliki para elit korporat, bukan? Dalam waktu yang tak dapat kita tebak, mungkin perusahaan besar semacam Uber atau Gojek yang masih menggunakan tenaga manusia harus ikut beradaptasi dengan tekanan kemajuan dari dunia barat (Amerika maupun Jerman) dan Asia Timur (China, Korea Selatan, dan Jepang) telah lebih awal mengadopsi teknologi ini dengan robot.

Di luar dunia distribusi dan transportasi semacam itu, bank tradisional mulai kalang kabut dengan kemunculan cryptocurrency dan Fintech. Penguasaan kode-kode dan mahadata akan menyingkirkan bank-bank tradisional yang tidak mau beradaptasi dengan perkembangan pesat sistem blockchain. Kemunculan Bitcoin dan beberapa mata uang digital lain seperti Litecoin dan Piggycoin mungkin serupa dengan kemunculan beberapa search engine seperti AOL, Bing, Yahoo, dan tentunya Google, juga mesin pencari lainnya pada awal kemunculan internet. Tapi siapa pun yang akan berada di jenjang tertinggi, dialah yang paling cepat beradaptasi dan berinovasi memberikan solusi bagi manusia. Begitu juga cryptocurrency yang saat ini sedang berusaha menyusun strategi supaya manusia lebih percaya. Dari sisi keamanan, tentu cryptocurrency dengan blockchain-nya unggul jauh dari bank tradisional, persoalan kini hanya membangun kepercayaan dan mengembangkannya lebih paten dari para peretas.

Setelahnya, mari kita menelisik dunia kesehatan. Perkembangan rekayasa genetika dan neurologi berjalan cepat-cepat, tetapi tidak terengah-engah. Manusia ke depan bak dewa yang dapat mengatur genetika seperti yang diinginkannya. Genetika yang diteliti ini dapat dengan mudah membaca kebiasaan dan perilaku kita. Dokter dapat dengan persis mengetahui sarapan apa yang biasa kita makan, seberapa sering kita berjalan kaki, dan perilaku lain yang umum maupun privat  yang bahkan kita sama sekali tidak menyadarinya. Genetika ini juga dapat melihat potensi kanker apa yang akan menjangkiti tubuh seseorang. Neurologi juga sama menakjubkannya. Dokter dapat merekayasa elektroda di dalam otak yang dapat mengembangkan skill kita di dunia fisik. Seseorang dapat secara mahir menembak dengan tepat sasaran tanpa pernah berlatih menembak sebelumnya. Bukankah ini luar biasa? Dan juga, masih dalam satu dekade ke depan, mungkin para ilmuwan dapat menemukan injeksi yang dapat membuat seseorang merasa bahagia secara instan. Kita dapat menyuntikkan cairan yang mempengaruhi proses biokimiawi di tubuh yang prosesnya merangasang aliran endorphin di otak.

Orang-orang yang jauh dari urban seperti para petani juga tidak kalah. Di beberapa belahan dunia telah dikembangkan mesin yang mampu menanam, menyemai, dan memetik hasil tani dengan robot. Robot ini akan berjalan sesuai dengan perintah bahkan memiliki kemampuan Machine Learning yang dapat mengetahui berapa takaran pupuk atau suplemen lainnya yang baik bagi tanaman. Mereka akan dengan sendirinya mengetahui apa yang terbaik bagi tanaman melalui algoritma yang telah diatur sedemikian rupa pada sang robot. Petani bahkan seperti pekerja kantoran yang tidak perlu turun ke lahan pertaniannya dan hanya mengatur serta mengawasinya melalui layar dan sistem komputasi lainnya. Kemampuan dan pengalaman bertahun-tahun seorang petani dirangkum dalam satu robot yang dibuat hanya sekejap. Kemungkinan di waktunya nanti, manusia akan memperoleh bahan pangan yang begitu melimpah.

Perang terus terjadi, sebenarnya. Tapi kita tidak melihat, seperti apa yang terjadi antara Israel dan Palestina. Perang kini melibatkan para ahli program komputer yang dapat meretas dan mencuri data dan bahkan menggantikannya. Suatu data dari institusi penting yang diretas dapat memporak-porandakan sebuah negara. Hal ini dapat mempengaruhi sistem ekonomi dan sosial korban kejahatan ini. Dampaknya bahkan lebih besar lagi dari sekadar perang menggunakan rudal balistik dan popor bedil. Tentara kini bekerja ekstra di depan layar, bukan di lapangan tembak.

Internet of Things menjalari semua celah kehidupan. Kini kita berada di ambang. Apakah ini benar perwujudan dari utopia, atau kita menyongsong distopia? Dengan beragam kemudahan dan kecanggihan itu, apakah peran manusia akan alpha? Sebagian besar di seluruh dunia akan digantikan dengan robot. Kode-kode lalu-lalang di dunia maya, sementara dunia fisik kita sepertinya terreduksi gerakannya di bawah atap hunian. Tak perlu melangkahkan kaki untuk mengubah dunia. Wajar bila kita takut, apalagi penyalahgunaan teknologi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mungkin akan terjadi ke depannya.

Mungkin satu dekade ini, kita merasakan detik-detik sejarah terus tercipta. Pada waktunya, akan ada useless class yang begitu besar. Gap yang sangat timpang dari orang-orang yang terpinggirkan dengan sebagian kecil saja para elit korporat mengubah struktur dan fungsionalisme zaman. Mungkin kita mengenal nubuat dari Darwin yang mengatkaan bahwa, “Mereka yang bertahan bukanlah yang terkuat, melainkan yang paling dapat beradaptasi.” Sebagian orang memikirkan alternatif terakhir dari nubuat itu, namun takut tertinggal atau bahkan masih nyaman di alternatif pertama. Tapi dunia akan menjawabnya, dan kita segera melihatnya dalam waktu yang tak dapat diduga.

Apakah kita akan hilang di dalam zaman? Dan cukup dengan hidup di alam yang kita pun tak dapat melihatnya -dunia maya. Saya membayangkan kecepatan perkembangan ini bagai spektrum. Semakin menyongsong hari, spektrum ini makin menciut karena semakin hari dunia semakin cepat saja. Bayangkan saja sebuah produksi mayonaise atau selai kacang yang pada zaman dahulu masih menggunakan tenaga manusia. Kini robot dan mesin-mesin menggantikannya dengan lebih cepat dan lebih efisien. Useless class makin terlihat. Tapi tentunya, teruntuk semua orang yang menyadari hal ini pun yang tidak, emotional intelligence diperlukan untuk menghadapi perkembangan yang pesat ini. Kita harus dapat mampu mengatur emosi diri sendiri. Seperti filsafat Stoic, “dunia adalah bagaimana cara kita memandang dan merasakannya.” dan tentunya, kecerdasan emosional ini juga sulit, tetapi tidak mustahil.

Bila dipikir-pikir, kita sebenarnya hanya diatur oleh segelintir orang saja, bukan? Dan dunia mengarah ke satu muara. Tantangan di depan yang dapat menggerakkan seluruh manusia adalah perubahan iklim, serangan nuklir, dan disrupsi teknologi. Tantangan terakhir itulah yang dibahas di atas. Apakah kita akan melompati batu atau tersandung karenanya? Kutipan George Washington akan saya jadikan penutup: “If we are wise, let us prepare for the worst.” Mari terus berusaha.

 

Pic source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s